Sabtu, 20 Juni 2009

Keluar dari Zona Nyaman

Hidup memang melulu soal pilihan. Pilih ini, pilih itu dengan segala konsekuensinya. Kalau hidup adalah soal berlari, maka yang jadi soal adalah seberapa cepat kita bisa berlari. Dan siapa yang sampai di tujuan lebih dulu.

Setiap orang punya timing tersendiri tentang "waktunya untuk memilih". Kemarin saya mendengar dan menyaksikan banyak kisah tentang mereka yang harus memilih. Atau lebih tepatnya, membuat keputusan besar. Yang akan mempengaruhi rencana hidup ke depan. Banyak emosi yang terlibat di sana atau muncul sebagai dampaknya. Senang, sedih, marah, waswas, adalah sedikit rasa yang mungkin muncul sebagai kejutan.

Tanpa disangka, saya akhirnya 'ketiban sampur' juga untuk peristiwa satu ini. Membuat keputusan besar. Merencanakan masa depan.Untuk hidup saya ke depan. Untu saya. Oleh saya. Dan bukan untuk orang lain (walaupun tentu orang lain pasti kena dampaknya sebagai efek dari 'benang merah sindrom', hehe).

Akhir Mei dan bulan Juni tahun ini menjadi titik balik dalam hidup saya. Atau lebih tepatnya, setiap pertengahan tahun selalu menjadi pintu gerbang transit dalam fase-fase hidup saya. Jika merunut kembali ke belakang, tahun lalu saya membuat keputusan besar di bulan Juni. Untuk melepaskan 'sesuatu' demi mencapai 'sesuatu' yang lain. Kalau mau sok filosofis, mungkin melepaskan yang profan untuk meraih yang sakral. Dampaknya ? Ternyata lumayan positif. Seperti peremajaan kulit dan tubuh setelah terlalu lama didera stres dan kurang buah =). Selanjutnya, tubuh yang isinya positif tadi terbukti lebih hebring diajak 'berlari' mengarungi hidup. Berbuah pada pencapaian IP tertinggi selama saya kuliah, tentunya dengan minim episode drama laga dan airmata.

Pertengahan tahun ini kembali menjadi pit-stop untuk perjalanan hidup saya. Tiba-tiba saya mengalami kejadian kehilangan dan pencapaian silih berganti. Ya, memang tidak berlangsung secepat kilat sih, tapi efeknya cukup untuk menjitak pelan kepala dan memaksa berpikir, "Yakin ini yang kamu mau ?". Bedanya, sekarang beban konsekuensi ke depan rasanya semakin besar.

Oya, ada satu rasa baru yang saya alami baru-baru ini. Perasaan tinggal kelas. Uhm, seperti apa ya menggambarkannya ? Oh, mungkin seperti ketinggalan / telat nonton bareng film terbaru yang super oke padahal sebetulnya kita bisa ikut acara itu. Cuma, yaaa...karena satu dan lain hal, jadilah kita ketinggalan di belakang. Ada sedikit perasaan "terpecundangi" karena seperti berdiri selangkah di belakang orang-orang tersebut. Atau malah nyempil di pojokan sambil ngintip-ngintip bimbang, dan tengsin mau ikutan soalnya pasti terasa canggung juga. Sedikit iri pasti menyempil di sana. Walaupun akhirnya pasti ikut merasa bahagia atas keberhasilan (mereka).

Oohh...ternyata seperti ini toh rasanya tinggal kelas.

Lalu, ternyata komplikasi perasaan "i am a loser" itu bisa membawa ke sebuah pencarian keluar dari zona nyaman. Bagi saya rasanya seperti efek menyebalkan dari alarm di pagi hari. Ketika saya masih ingin tidur tapi sudah harus bangun. Cuma, yaaa...itulah hidup, bukan ? Harus dijalani. Harus dinikmati. Jangan banyak khawatir. Santai saja, jalani, tercebur ke dalamnya. Rasakan sensasi yang terjadi.

Itu yang saya alami dan coba lakukan belakangan. Keluar dari zona nyaman. Sejauh mana saya mampu berlari ? Sejauh mana saya mampu berkembang ? Dan sejauh mana saya mampu mengerti dan dimengerti ? Itulah kata kunci dalam petualangan kali ini. Petualangan yang hadir di hadapan seperti kotak kejutan dengan tanda tanya besar, namun dibungkus kertas serta pita yang manis.

Ayo semangat, sayang. Minggu depan kamu mulai KP. Yakin bahwa kamu bisa. Jadilah diri sendiri , tapi mari lakukan yang terbaik.

Saya yakin, ini akan membawa saya pada pemenuhan diri serta pembelajaran untuk saya yang lebih baik lagi.

Just like my favorite quote from Traveler's Tale : Venture all. Let's see what fate brings. Fortune favours the bold.

Tidak lupa saya minta dukungan daru Tuhan : tolong bantu anak bandel ini ya Tuhan. Tapi terimakasih sekali, Engkau telah menunjukkan jalan dan (setidaknya) melemparkan satu umpan yang positif.

So, let's see what happens next....
Doakan saya.

Selasa, 16 Juni 2009

Definitely Not My Day

Bagaimana Anda memaknai hari - setiap harinya ?


Mungkin sebagian dari Anda akan memaknainya berdasarkan cuaca. Hari in cerah. Hari ini gerah. Mungkin juga sebagian akan menamainya berdasarkan intensitas urgensi dan bobot aktivitas. This is my BIG day because it's my 1st working day. And so on.


Bagaimana dengan saya ? Bagaimana hari saya saat ini ? Apasaja yang terjadi dalam satu hari saya - kali ini ?


Memulai hari dengan bangun kesiangan setelah balas dendam kemarin bergadang berhari-hari. Mendapati bahwa tenggorokan rasanya tidak beres dan kepala sedikit berputar hari ini. Mendapat telepon dan membuat janji bertemu untuk mengejar target akademis. Terburu-buru karena nyadar seketika kalau waktu janjiannya satu jam lagi. Pergi ke kampus di tengah liburan semester genap dan mendapati suasana sepi yang - entah kenapa - rasanya tidak terlalu menyenangkan. Lalu menunggu selama sejam lebih hanya untuk mendapati bahwa janji ketemuan ternyata batal. Sebal pada sahabat. Pulang dengan kesal. Tenggelam di dunia maya. Pacar tidak jadi datang. Kesepian menghabiskan malam. Mau curhat ke pacar untuk menumpahkan emosi, malah mendapat setumpuk nasihat di saat telinga tidak ingin mendengar apa-apa (oke, dia memang benar. But can't he just give an emphaty not an LOGIC advice ? *sigh*). Menangis diam-diam. Impulsif membuat blog baru. Dan menumpahkan kekesalan di posting kedua.


Hmm. Today is definitely not my day.

first entry

Berawal dari rasa yang harus disublimasikan dengan tepat.
Semoga benar-benar menjadi a litlle place to escape.

Welcome me !!!